UN Habitat Bangun Kota Terapung Berkelanjutan Pertama di Dunia

0

Sebuah kota terapung sedang dibangun di Busan, Korea Selatan. Diberi label Oceanix Busan, kota terapung pertama di dunia ini dikembangkan oleh UN Habitat dan Pemerintah Metropolitan Busan.  Oceanix Busan bertujuan untuk memberikan terobosan teknologi bagi kota-kota pesisir yang menghadapi kekurnagan lahan yang diperparah oleh ancaman iklim.

Pengembangan kota terapung ini didasarkan pada situasi di mana banyak kota di dunia harus menghadapi tantangan untuk tidak sekadar berkembang, tapi juga layak huni dan berkelanjutan. Dua dari lima orang di dunia tinggal dalam jarak 100 km dari pantai, dan 90 persen kota besar di seluruh dunia rentan terhadap kenaikan permukaan laut. Banjir dan rob bisa merusak infrastruktur yang sudah dibangun mahal dan memaksa jutaan orang untuk mengungsi.

“OCEANIX Busan menunjukkan bahwa infrastruktur terapung dapat menciptakan lahan baru bagi kota-kota pesisir yang mencari cara untuk berkembang ke lautan, sambil beradaptasi dengan kenaikan permukaan laut,” kata Chief Executive Officer Oceanix, Mr. Philipp Hofmann, seperti tertuang pada rilis dari UN Habitat, 26/4.

Kota ini memang baru prototipe, yang diharapkan akan menjadi laboratorium untuk pengembangan lebih lanjut tentang komunitas terapung yang bisa berkelanjutan dan memiliki ketangguhan menghadapi bencana.  Oceanix Busan didesain serupa kepulauan yang akan terdiri dari beberap anjungan terapung dan membentuk lingkungan/komunitas sendiri. Setiap lingkungan berukuran 3-4 ha, dan didesain sebagai area multifungsi, dan dirancang untuk siap “menghidupi” komunitasnya.

Mirip Kota

Tak beda dengan rupa kota di daratan, fasilitas yang akan ada di sini juga memiliki fungsi sosial, rekresasi dan komersial. Jadi di sini akan akan alun-alun, pasar, tempat ibadah, lalu fasilitas pendidikan, kesehatan, olah raga dan budaya. Gedung-gedungnya dibangun dengan material lokal, termasuk bambu, guna mengurangi carbon footprint, dengan konsep prafabrikasi. Hal ini juga bertujuan agar menghemat biaya pembangunan, mengurangi sampah dan bisa disewakan dengan harga terjangkau.

Anjungan terapung itu terhubung dengan daratan dengan jembatan yang membingkai laguna biru yang difungsikan sebagai tempat rekreasi, ruang seni, dan arena pertunjukan terapung. Di setiap anjungan yang dibentuk serupa kurva, diisi oleh bangunan-bangunan bertingkat rendah—tidak lebih dari 7 lantai. Hanya dibuat rendah, dengan pertimbangan gravitasi dan angin, juga dengnan ketinggian tersebut, gedung-gedung tidak saling menutupi dan cukup memberi bayangan peneduh di area sekitarnya. Setiap gedung dirancang memiliki teras, sehingga untuk menciptakan gaya hidup yang harmonis antara di dalam-luar ruangan. Dengan begitu ruang-ruang publik jadi aktif dan hidup.

Kota ini akan dilengkapi dengan enam sistem terintegrasi yang mencakup zero waste and circular systems, closed loop water systems, food, net zero energy, innovative mobility, dan coastal habitat regeneration. Sistem ini saling terkoneksi dan akan menghasilkan energi yang 100 persen bersumber dari sistem kota ini sendiri, yang antara lain digunakan panel-panel fotovoltaik, baik yang dibuat terapung di tepi anjungan atau di atap-atap bangunan.  Setiap lingkungan didesain untuk bisa merawat dan mengisi kembali sumber airnya sendiri, mengurangi dan mendaur ulang sumber dayanya, dan menyediakan lahan pertanian perkotaan yang inovatif. Kehidupan laut di bawahnya pun akan dijaga, yang juga bisa dijadikan sebagai sumber pangan.

Oceanix Busan dirancang untuk berubah dan beradaptasi secara organik dari waktu ke waktu. Untuk pengembangan awal, dibangun 3 anjungan seluas 6,3 ha, dengan 12.000 penghuni dan pengunjung, yang akan membentuk komunitas baru. Kawasan ini berpotensi untuk berkembang menjadi lebih dari 20 platform.

Oceanix sendiri adalah sebuah perusahaan teknologi biru yang berbasis di New York, yang memang dibentuk untuk mendesain prototipe kota-kota terapung untuk hidup yang berkelanjutan. Untuk pengembangan kota terapung tersebut, perusahaan ini menggandeng sejumlah tim ahli, yakni dari BIG-Bjarke Ingels Group dan SAMOO Architects and Engineers (Samsung Group), sebagai tim perancang utama. Juga Prime Movers Lab, Arup, Bouygues Construction, Helena, the MIT Center for Ocean Engineering, the Korea Maritime and Ocean University, Olafur Eliasson and Studio Other Spaces, Wartsila, Transsolar KlimaEngineering, Mobility in Chain, Sherwood Design Engineers, Agritecture, the Center for Zero Waste Design, Greenwave, dan the Global Coral Reef Alliance.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

website free tracking